Serang Masjid, Puluhan Muslim Thailand Terbantai Dalam Sholat Magrib
BANGKOK (SuaraMedia News) – Para ekstrimis yang membawa senjata api diperkirakan telah membantai setidaknya 10 orang dan melukai 12 lainnya di sebuah masjid di selatan Thailand dalam sebuah sergapan yang terjadi di wilayah tersebut, menurut polisi.
Para militan tersebut menembakkan senjata mereka kepada orang orang yang beribadah ketika sholat Maghrib di propinsi Narathiwat yang memang sedang bergejolak. Seorang Imam lokal juga dilaporkan meninggal.
Tiga serangan lain di Narathiwat minggu ini juga menyebabkan tiga orang lain meninggal.
Lebih dari 3700 orang meninggal selama lima tahun kekacauan di propinsi yang banyak dihuni Muslim di Thailand Selatan.
“Mereka menembakkan senjata mereka secara membati buta kepada sekitar 50 orang di dalam Masjid,” seorang ofisial polisi yang tidak mau disebutkan namanya menyatakan pada AFP.
Dia menyatakan bahwa sekitar lima orang bersenjata memasuki Masjid di distrik Cho-ai-rong melalui pintu belakang, namun Kolonel Parinya Chaidilok, juru bicara tentara menyatakan bahwa hanya terdapat dua orang bersenjata yang menyerang Masjid tersebut dengan cara memasuki masjid dari pintu yang berbeda.
Chaidilok juga menyatakan bahwa 10 orang tewas di tempat kejadian, dan sisanya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, 12 orang korban mengalami luka parah dan dalam kondisi kritis.
Dia juga menambahkan bahwa identitas orang yang menyerang Masjd tersebut masih tidak diketahui namun sepertinya para penyerang tersebut berusaha terlihat agar pihak keamanan Thailand yang bertanggung jawab. Atau mungkin memang pemerintahan Thailand yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, karena bukan rahasia lagi bahwa pemerintah Thailand tidak pernah akur dengan umat Muslim yang merupakan minoritas di daerah tersebut.
“Mereka berusaha membuat kami yang melakukan serangan tersebut, karena Muslim tidak mungkin menembak di dalam Masjid. Namun hal itu sangatlah tidak mungkin dilakukan oleh militer,” kilah Chaidilok.
Serangan tersebut terjadi di tengah kekerasan yang terjadi di propinsi tersebut minggu lalu.
Satu jam sebelumnya, militan yang dicurigai menembak mati mata mata di distrik Rangae dan beberapa tentara dilaporkan terluka oleh ledakan bom di distrik Rueso, kantor berita Reuters melaporkan.
Minggu lalu dua orang terbunuh dalam serangan lain oleh militan dalam propinsi tersebut.
Pada serangan sebelumnya di wilayah tersebut, di perbatasan Malaysia, otoritas Thailand menyalahkan Muslim sebagai biang kerusuhan.
Namun mereka sepertinya menarget orang yang akan bekerjasama dengan pemerintah Bangkok, atau mengusir penduduk Buddha dari wilayah tersebut dan mendirikan negara Islam.
Thailand menggabungkan tiga wilayah selatan – Narathiwat, Yala dan Pattani – pada 1902, namun mayoritas penduduk lainnya adalah Muslim dan berbicara dengan dialek Melayu, berbeda dengan penduduk Buddha yang berbicara dengan bahasa Thailand di banyak bagian di negara tersebut.
Abhisit Vejjajiva, Perdana Menteri Thailand, minggu lalu membela penanganan pemerintahnya dalam krisis di Selatan.
Pemerintah menyetujui bahwa pada bulan April mereka akan memperpanjang peberlakuan peraturan darurat selama tiga bulan di wilayah tersebut, meskipun janji dari Abhisit untuk membatalkan rencana tersebut pada Januari.
Pemberontakan terakhir di kesultanan etnis Malaysia dimulai pada Januari 2004 ketika para pejuang menyerang markas tentara, menewaskan empat tentara. (bk/bbc/ajz) Dikutip oleh www.suaramedia.com
No comments yet.
Leave a Reply
-
Archives
- June 2009 (13)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS