Mhtimalang's Blog

Just another WordPress.com weblog

Remaja Bicara Cinta dan Kesehatan Reproduksi

Kamis (21/5) Aula II Javacocoa kompleks Wisata Kebun The Wonosari kebanjiran. Bukan kebanjiran lantaran air yang menggenangi setiap sudut rumah, akan tetapi banjirnya remaja putri yang berbondong-bondong mengikuti RnB (Rihlah n Bincang-bincang Bareng Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia(MHTI), dengan tema “Remaja Bicara Cinta dan Kesehatan Reproduksi…Yuuk!!!”( Menguak Liberalisasi di balik Program KRR vs Solusi Islam). Acara yang dihadiri sekitar 200 remaja dari wilayah Malang Raya ini kontan  saja membuat suasana dinginnya Kebun The terasa hangat, dikarenakan banyaknya peserta yang hadir.

Acara yang diselenggarakan oleh MHTI DPD II Malang Raya dalam rangka menguak liberalisasi dibalik program Kesehatan Reproduksi Remaja ini menghadirkan 2 pembicara. Pembicara yang pertama yaitu Dr Mika Rahmadiana dan yang kedua adalah Nur Maulidya. Dalam paparannya, pemateri yang sekarang bekerja di RSB Pemkot Malang ini, menjelaskan tentang pengertian dewasa atau remaja itu sendiri berdasarkan Medis dan berdasarkan Islam. Selain itu beliau juga menjelaskan arti kedewasaan yang diajarkan oleh syara’ adalah manusia yang berkepribadian Islam yang mana pola pikir dan pola sikapnya sesuai dengan Islam.Di akhir pemaparannya beliau berpesan, “Dewasa siapa takut!!!, Dan jadilah remaja pejuang Islam yang tangguh”, kata beliau.

Setelah pemaparan yang pertama usai, acara dilanjutkan dengan pemutaran film yang berjudul “Potret Remaja Buram vs Remaja Berprestasi n Syar’I”. Film yang berdurasi sekitar 15 menit ini disambut dengan gelak tawa para peserta dikarenakan dalam salah satu adegan di film tersebut ditampilkan remaja Barat yang berbahasa Jawa. Disamping itu juga digambarkan remaja buram yang menuai nestapa disebabkan pergaulannya yang menyimpang dari ajaran Islam. Di akhir tayangan tersebut ditampilkan nasyid dengan artis Shoutul Khilafah berjudul “Seruan Mulia” yang mengajak kepada seluruh remaja untuk meninggalkan gaya hidup jahiliyah dan berganti dengan gaya yang sesuai dengan versi Islam.

Acara demi acara berlanjut dengan pemaparan pemateri yang ke-2 dengan materi “Be Smart Muslimah With Syari’ah”. Diawal-awal penjelasannya beliau memberikan data-data remaja saat ini yang berada di titik nadhir mengerikan. Dimana 1,5 juta remaja Jatim dilaporkan mengidap HIV/AIDS, 13ribu lebih menjadi pengguna narkoba suntik, 28,5% remaja telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, dan jumlah angka aborsi yang semakin meningkat tajam dari tahun ke tahun dan yang paling mengkhawatirkan pelakunya adalah remaja akibat kehamilan yang tidak diinginkan(KTD). Trainer yang masih tercatat sebagai mahasiswi Universitas Brawijaya ini juga menjelaskan secara detail tentang liberalisasi KRR yang saat ini gencar di sosialisasikan di tengah-tengah remaja SMP-SMA, diantaranya pemakaian kondom, setia pada pasangan dsb. “Kalau  program KRR sudah disosialisasikan mengapa masih ditemukan banyak sekali angka aborsi?” katanya. Mengapa semua ini bisa terjadi? Apa yang salah dari mereka? Dan siapa yang harus bertanggung jawab?.

Ulasan berikutnya dilanjutkan dengan menganalisa para penggagas Kespro, sudah memberikan solusi apa tidak? Sebenarnya gagasan kespro ini, menurut Tini Hadad (ketua Yayasan Kesehaan Perempuan) dilatarbelakangi oleh banyaknya angka kematian ibu dan bayi, juga banyaknya kasus-kasus pelanggaran hak reproduksi perempuan seperti kasus perkosaan dalam perkawinan, perjodohan, larangan aborsi, pelecehan seksual, penyiksaan, paksaan terhadap penggunaan alat-alat kontrasepsi, dan berbagai bentuk diskriminasi yang menomorduakan kedudukan perempuan.

Gagasan kespro ini pertama kali dipopulerkan oleh International Conference On Population and Development (ICPD)/Konfeensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan yang berlangsung 5-13 September 1994 di Kairo. Dan definisi kespro menurut mereka adalah keadaan yang menunjukkan kondisi kesehatan fisik, mental dan sosial yang dihubungkan dengan fungsi dan proses reproduksi. Sasaran program ini tentunya bukan hanya perempuan yang menikah tetapi remaja putri juga harus memahami konsep kespro ini. Oleh karena itu, pendidikan seks bagi remaja menjadi program yang harus direalisasikan. Tak hanya dari orang tua, akan tetapi juga pendidikan di sekolah. Pengetahuan remaja tentang seks yang masih kurang ditambah dengan faktor informasi yang keliru seputar mitos seks, VCD porno, situs porno di internet dll, akan membuat pemahaman dan persepsi anak tentang seks menjadi salah. Padahal tujuan pendidikan seks ini adalah agar remaja menyadari bahwa pemegang kendali utama tubuh kita adalah diri kita sendiri bukan orang tua, pacar, atau teman dari berbagai paksaan yng menyangkut tubuh dan jiwa kita.

Pada faktanya pelaksanaan pendidikan seks pada remaja justru memarakkan seks bebas itu sendiri. Bagaimana tidak, program pendidikan seksual yang komprehensif tidak hanya mencakup fakta-fakta biologis, tapi juga menyuguhkan informasi dan ketrampilan praktis kepada para pemuda mengenahi berkencan, hubungan seks, dan penggunaan kontrasepsi, tuturnya. Hal inilah salah satu penyebab adanya program kondomisasi, yang mana kondom dibagikan ke remaja secara gratis, dan tentu saja tidak bisa disalahkan kalau perzinahan akan semakin bebas.

Dalam akhir pemahasannya beliau menjelaskan konsep kespro dalam Islam. Islam adalah agama yang mampu menjadi pemecah segala problem kehidupan, termasuk didalamnya adalah kesehatan. Islam mengajarkan konsep hidup yang benar yaitu keyakinan yang kuat menempatkan Allah sebagai pencipta dan pengatur hidup manusia. Dia melengkapi hidup kita dengan seperangkat aturan yang terbaik yaitu Islam. Inilah konsep hidup yang benar dan harus ditanamkan pada remaja. Sedangkan pergaulan bebas adalah bentuk pelanggaran dalam Islam, hubungan seks diluar nikah menunjukkan tidak adanya rasa tanggung jawab dan memunculkan rentetan persoalan baru, kata beliau. Beliau juga mengajak peserta untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya pegangan hidup.

Setelah pemparan materi acara dilanjutkan dengan outbond dan tadabur  yang dipandu oleh tim remaja MHTI Malang, para peserta sangat antusias sekali dengan outbond kali ini, karena selain outbond peserta juga diajak jalan-jalan mengelilingi area kebun the Wonosari. Outbond ini bertujuan untuk mengajarkan kepada remaja agar ketika melakukan segala aktvitas selalu disertai dengan “Ruh” dalam artian untuk selalu terikat dengan aturan dan laranganNya. Setelah outbond peserta diajak untuk sholat berjamaah, istirahat dan makan siang. Acara yang berlangsung mulai jam 8 sampai jam 2 siang ini diakhiri dengan bincang-bincang bareng MHTI. Salah satu peserta bahkan ada yang bertanya “Kalau program KRR yang disosialisasikan pemerintah saat ini tidak benar, apa dan bagaimana yang harus kita lakukan?” dan pemateripun menjawab “Agar kita selalu menjadikan Islam sebagai pemecah segala masalah dan mensosialisasikannya kepada remaja yang lain unuk kembali kepada syari’ah  Allah dan berjuang bersama untuk menegakkan syari’ah itu dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah…Allahu Akbar!!!.

Advertisement

June 10, 2009 - Posted by | KEGIATAN

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.